My Inspirasi in NLP
Semoga berguna …
“Buku ini merupakan ekspresi seorang penulis yang telah mampu menyelam ke dalam dinamika kehidupan dan pengetahuan. Dari sana, penulis mengeksplorasi kegelisahan hatinya akan tebaran tanya untuk mencari jawabannya. Selain kemampuannya meramu pengalaman pribadi dengan berbagai potret orang-orang sukses, penulis telah menemukan sebagian jawaban bahwa: mengetahui potensi diri dan kemauan kuat mengembangkannya serta mampu mengedit diri, adalah kunci sukses. Itulah kiat tanpa akhir bahwa sukses terletak pada diri sendiri. Buku ini layak dibaca sebagai referensi pelengkap membangun formula sukses kehidupan “ (Herry Soeprapto SN, Leadership and Management Trainer, UNSOED)
“Luar biasa, kata-kata itu yang paling tepat untuk Buku ini. Dikemas dengan bahasa yang mudah dan sederhana namun menyentuh subtansi bagi pembaca. Bagi yang ingin mendapatkan motivasi dan ingin mengembangkan dirinya, buku ini menjadi pelengkap di antara buku-buku yang sudah ada” (Asep Syarifudin, General Manager, Harian Radar Banyumas)
“Buku ini bukanlah retorika semata. Buku ini pantas mendapatkan apresiasi dalam membangun SDM unggul di Indonesia “(Purdie E.Chandra, SE, MBA, Presdir Primagama Group)
Purdie E. Chandra, SE, MBA, Presiden Direktur Grup Primagama Yogyakarta
Kecerdasan spiritual, atau yang lazim disebut dengan SQ (Spiritual Quotient), merupakan kekuatan puncak seseorang (the ultimate power) yang menyebabkan seseorang menjadi sukses bila rajin mengaksesnya. Dikatakan the ultimate oleh penulis buku ini karena tidak ada kekuatan lain di dalam diri (potensi) manusia yang bisa menandinginya. Kekuatan lain seperti EQ (Emotional Quotient) dan IQ (Intelectual Quotient) masing-masing ada batasnya. EQ memiliki keterbatasan yang disebut dengan putus asa; IQ memiliki keterbatasan juga yaitu hanya ahli di satu bidang saja. Pada saat EQ dan IQ masing-masing terpuruk pada keterbatasannya, SQ sanggup menyuplai kekuatan tak terbatas sehingga EQ yang putus asa bisa pulih kembali, dan IQ yang hanya ahli pada satu bidang saja bisa pindah bidang lain bila, dan hanya bila, SQ mau dan menyetuinya.
Buku ini ingin menyampaikan bahwa sumber kecerdasan manusia terletak pada SQ-nya. Artinya, kalau SQ cerdas, kecerdasan lainnya akan mengikutinya. Semakin besar dorongan SQ seseorang semakin cerdas EQ dan IQ-nya. Manusia sukses, adalah mereka yang pandai memanfaatkan seluruh kecerdasannya sebagai karunia Tuhan: manusia terlahir sudah memiliki potensi sukses. Modal-modal sukses sudah ada dalam setiap diri manusia. Maka, menurut hemat saya, tidaklah berlebihan kalau penulis buku ini mengatakan bahwa sukses adalah hak setiap orang.
Menyadari akan pentingnya potensi diri sebagai modal sukses, buku ini memberikan sejumlah kiat mengasahnya. Kiat yang disajikan boleh jadi merupakan sejumlah teknik yang di dalamnya bukanlah sekedar teknik-mekanis ala mesin, melainkan teknik “psiko-transpersonal” yang lahir dari proses refleksi penulisnya. Teknik “psiko-transpersonal” adalah teknik yang mampu mengolah kekayaan batiniah sesorang khususnya emosinal-spiritual yang tersimpan dalam alam bawah sadar (unconsious mind) sebagai energi potensial menjadi energi aktual.
Teknik-teknik “psiko-transpersonal” yang disajikan dalam Bagian Kedua (Personal Development) dan Bagian Ketiga (personal editing) menurut hemat saya, merupakan kiat cerdas dalam upaya memperbaiki kualitas diri seseorang. Setiap orang akan tumbuh menjadi manusia dewasa (personal development) bila yang bersangkutan secara terus menerus dapat memahami siapa dirinya, apa saja potensinya, dan berani mengedit diri (personal editing) agar hari esok jauh lebih baik.
Hampir semua artikel yang disajikan dalam buku ini diupayakan oleh penulisnya untuk membangun sebuah optimisme baru melalui sejumlah teknik “psiko-transpersonal”. Setidaknya ada “setetes embun” yang mencerahkan jiwa pembaca agar sadar bahwa sukses tidaknya sesorang dalam hidup sangat tergantung bagaimana mengelola potensi dirinya. Optimisme adalah ruh setiap individu yang ingin sukses.
Dalam dunia entrepreneurship optimisme adalah modal di atas modal lainya. Artinya, bisnis akan berhasil bila dibangun di atas tumpukan optimisme yang tak pernah henti. Modal lain (uang, skill, pengetahuan, dan lain-lain) memang penting dalam setiap bisnis, tetapi tanpa dibangun di atas optimisme, bangunan bisnis akan hancur.
Oleh karenanya, dalam setiap seminar entrepreneurship dan dalam kuliah-kuliah di “Entrepreneur University” saya sering menyampaikan pentingnya optimismisme. Kosep BODOL (Berani Optimis Duwit Orang Lain), BOTOL (Berani Optimis Tenaga Orang Lain), BOSOL (Berani Optimis Sertifikat (tanah) Orang Lain) dan BOOL (Berani Optimis Otak Orang Lain) adalah konsep-konsep bisnis yang dibangun di atas sebuah optimisme. Buku ini, setidaknya, telah memberikan energi baru terhadap konsep-konsep tersebut.
Saya menyambut gembira lahirnya buku refleksi diri ini. Sekaligus saya percaya bahwa apa yang ditulis dalam buku ini merupakan pergulatan batin penulisnya. Artinya, apa yang ditulis bukanlah sebuah retorika, tetapi pengalaman pribadi penulis yang membawanya menjadi manusia sukses. Dilihat dari biografinya, buku ini bukanlah retorika semata. Buku ini pantas mendapatkan apresiasi dalam membangun SDM handal di Indonesia.
Yoyakarta, 3 Oktober 2005
Entah, ini merupakan cermin dari budaya masyarakat kita atau mungkin sisa-sisa budaya lama yang masih hidup dalam alam pikir kita. Yang jelas, acara sinetron tivi sering menayangkan masalah perdukanan atau klenik. Bila seseorang ingin kaya, demikian sinetron yang kita lihat, jalan pintas yang ditempuh adalah pergi ke dukun.
Mbah Dukun biasanya memberikan semacam benda-benda jimat yang dianggap sakral. Benda itu bisa berupa keris, akik, rajah atau yang lain berikut ritual dan mantranya. Kemudian pasien dipersyaratkan untuk menjalankan ritual tertentu dengan sepenuh hati (yakin). Dengan kenyakinan yang total itu, ia (pencari dukun) akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
¼br /> Lepas apakah cerita-cerita sinetron itu khayalan belaka atau cermin dari masyarakat tradisional yang masih mempercayai hal-hal yang klenik, tetapi dari sudut pandang NLP hal semacam itu bisa dijelaskan: mengapa mereka sukses (jadi kaya), lepas apakah itu halal atau tidak.
Ini bukan berarti NLP sama dengan ilmu klenik, tetapi NLP yang mempelajari bagaimana pikiran bekerja dan diprogram, bisa menjelaskan bagaimana seseorang bisa sukses melalui dukun. NLP merupakan sebuah teknologi rekayasa pikiran yang mampu mengantarkan seseorang menjadi sukses.
Ketika seseorang pergi ke dukun, sebenarnya ia telah menyerahkan dirinya secara mental, emosioanal dan bahkan spiritualnya (yang disebut keyakinan) kepada Mbah Dukun. Ia sangat yakin bahwa sang dukun dapat membantunya. Dalam kepasrahan total seperti itu apa pun yang diperintahkan oleh Mbah Dukun ia akan mematuhinya. Bahkan –seperti terlihat dalam sinetron—untuk membunuh anak atau orang lain sekali pun, ia lakukan.
Ketika Mbah Dukun memberikan sebuah jimat seseorang misalnya, maka ia akan memuja dan memeliharanya dengan baik. Apa sesungguhnya jimat? Jimat adalah simbol, sebuah keinginan (cita-cita) yang oleh Mbah Dukun divisualiasikan ke dalam bentuk benda. Dengan kata lain, jimat adalah simbol (benda) atau kata-kata (mantra) sebagai pemicu sukses.
Dengan jimat yang keramatkan, pikiran orang bisa teringat terus terhadap cita-citanya. Jimat tidak lain adalah titik picu (trigger) berkorbarnya semangat seseorang terhadap cita-citanya. Dalam dunia moderen, titik picu tidak harus berupa jimat dari Mbah Dukun, tetapi bisa berupa: gambar-gambar, tokoh-tokoh idola, visi hidup Anda ditulis tebal-tebal di kamar tidur, afirmasi dan simbol-simbol pemicu sukses lainnya seperti plat nomor mobil/hp hoki yang berangka 09.
Bukan jimat itu sendiri, tetapi makna atau kandungan cita-cita yang terdapat dalam jimat itu adalah yang terpenting. Patih Gadjah Mada mempunyai jimat “Sumpah Palapa”, seorang teman mempunyai jimat “dasi”, ia tidak akan melepas dasinya (ke mana pun) sebelum cita-citanya tercapai. Seorang teman lagi mempunyai jimat “berpuasa senin-kamis”. Dan saya pun mempunyai jimat “NLP for Better Life”. Anda punya jimat apa?
Bukan keris, rajah, buah palapa dan dasi itu sendiri melainkan ruh atau semangat dan keyakinan yang diberikan untuk jimat itulah yang terpenting. Anda adalah sang pemberi makna, pemberi ruh, atau pemberi jiwa terhadap benda-benda itu. Kekuatan benda-benda itu, tergantung seberapa besar semangat yang Anda berikan.
Selain jimat, permberian lainnya dari dukun adalah mantra. Banyak orang percaya bahwa dengan mantra menjadi lebih percaya diri. Lepas apakah yang bersangkutan mengerti isi mantranya atau tidak, berbahasa sendiri atau bahasa asing, yang jelas ia akan melakukanya secara periodik dengan motif sangat kuat: ingin sukses/kaya.
Siapa pun orangnya, bila melakukan suatu ritual pemantraaan serius, maka pikiran bawah sadarnya akan mencatat dan mengolahnya hingga mengkristal menjadi sistem keyakinan. Terlebih dengan sugesti dari dukun yang terkenal ampuh misalnya, sebuah keyakinan menjadi tumbuh lebih kuat. Sistem keyakinan itu tersimpan dalam pikiran bawah sadar (unconsious mind) yang setiap saat dapat diakses menjadi sebuah motif untuk bertindak.
Dalam dunia NLP, ada suatu aktifitas yang yaris sama dengan pemantraan, yakni afirmasi diri atau incantation sebagai cara membangun sebuah keyakinan. Contoh afirmasi diri: “Saya bisa!”, “Saya mampu!” atau “Apa pun yang terjadi, saya akan bertambah kuat dan kuat”. Bila kata-kata ini kita ucapkan terus menerus dengan sepenuh hati, maka akan mengkristal menjadi sistem keyakinan yang tersimpan di pikiran bawah sadar.
Petinju Muhammad Ali adalah contoh orang yang menerapkan afirmasi diri (mengucapkan mantra) dengan kata-kata “Saya KO dia pada ronde ke-3!” Ia mengucapkannya itu berkali-kali pada saat sebelum dan sedang bertanding! Bahkan setiap saat setiap, waktu dengan sepenuh hati (Tung Desem Waringin, 2005)
NLP tidak hanya mengajarkan afirmasi positif, NLP juga memberikan suatu alat agar seseorang yakin dengan potensi dirinya. Dari orang yang kurang optimis menjadi optimis, dari orang kurang percaya diri menjadi lebih percaya diri, dan dari orang yang berpersepsi negatif menjadi positif.
Namun sesungguhnya, tujuan akhir dari pelatihan NLP adalah membentuk keyakinan, kalau dukun dengan mantra-mantranya, NLP dengan cara lebih moderen. Diantaranya, ada hipnosis (membangun keyakinan diri dengan cara rileksasi), reframing (merubah sudut pandang negatif ke positif), swish pattern (menghapus masa kelam menuju masa depan yang cemerlang), time line (memandang secara rasional masa depan Anda) dan sejumlah cara lainnya seperti circle of excellent, yakni teknik mengumpulkan dan memvitalisasi potensi diri.
Untuk sukses memang banyak caranya, ada yang pergi ke dukun, ada yang dengan cara tekun dan kerja keras, ada yang dengan laku prihatin. Ada pula yang mengikuti pelatihan NLP karena lebih rasional dan menyenangkan. Anda mau ke mana? Pilihan Anda di tangan Anda, karena Andalah pemegang otoritas tertinggi terhadap diri Anda.
“Buku yang menyegarkan wawasan bepikir dan menggugah kesadaran kita dengan cara yang sangat membumi” (Adi W. Gunawan, penulis buku best seller Manage Your Mind for Success)
“Bravo, penulis berhasil membingkai ulang NLP sehingga terlihat, terdengar, dan terasa pas dengan konteks budaya bumi Indonesia” (Ronny F. Ronodirjo, konsultan dan trainer berbasis NLP dan hipnosis)
“Banyak orang mengatakan bahwa kita harus bebakat besar dan pintar untuk mendapatkan sukses besar. Ternyata dalam realita kehidupan hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Belajar memahami berpikir dan bertindak adalah kunci suksesnya. Manusia adalah apa yang ada dalam pikirannya. ‘Kalau Anda percaya akan berhasil maka Anda akan berhasil’. Formula atau nasehat-nasehat sejenis termuat dalam buku ini berikut ilustrasi dan format lebih manis. Buku ini enak dibaca karena bahasanya tidak terlalu formal, bahasa “slank” namun komunikatif. Saya benar-benar recommended buku ini untuk dibaca” (Sri Nugroho Purbo Rahayu, SE, MA, anggota Academy of International Business dan Direktur School of Business and Management, UNSOED)
Pengalaman subjektif seseorang atas kegagalan dalam dunia bisnis, karir/ profesi dan kehidupan sosial akan mengendap dan mengkristal menjadi file-file negatif bervirus dalam bio-pikirannya. File-file tersebut menjadi sumber keyakinan yang keliru yang meyebabkan kegagalannya tak berujung. Hatinya meronta ingin segera keluar dari pengruh buruk virus pikiran tersebut tetapi tidak tahu caranya.Melalui NLP (neuro-linguistic programming) dalam perspektif teoritis dan praktis, virus penyebab kegagalan itu dapat diformat ulang dan dihapus dari bio-pikiran menuju kesadaran baru. Siapa saja yang telah menghapusnya, prestasinya akan melesat bak meteor. NLP merupakan alat untuk merekayasa ulang (re-engineering) pikiran negatif menuju pikiran positif, dari cara berpikir gagal menjadi cara berpikir sukses. Kondisi internal pikiran tentang gagal masih sangat mungkin direkayasa ulang sesuai dengan keinginan pemiliknya. Kondisi pikiran tentang gagal, bukanlah gagal itu sendiri.
Waidi setelah lulus STM Wongsorejo Gombong, sempat bekerja sebagai Cleaning Service di sebuah Perusahaan Farmasi Bandung. Kemudian mengawali karirnya di UNSOED sebagai teknisi percetakan. Sambil bekerja ia melanjutkan kuliah S1 FISIP Universitas Terbuka. Dengan beasiswa dari UNSOED-Asian Development Bank, ia melanjutkan studi S2 (MBA in Education) di Leicester University Inggris, dan pelatihan NLP di Inspiritive Graduate Certificate in NLP, Sydney. Kini ia tercatat sebagai dosen Pascasarjana di School of Business and Management, UNSOED, sebagai trainer, motivator, kolumnis dan penulis buku-buku Pengembangan Diri berbasis NLP. Melalui NLP ia mengaku potensi dirinya menjadi lebih berkembang.
Oleh Jennie S. Bev
Jennie S. Bev adalah Entrepreneur, Konsultan, Penulis dan Edukator berbasis di California Utara. Ia telah menerbitkan lebih dari 30 buku dan 900 artikel di mancanegara, termasuk USA, Canada, Inggris, Jerman, Perancis dan Singapura. Perantau ini pernah menjadi finalis EPPIE Award for excellence in electronic publishing. Prestasinya diraih dengan menggunakan teknik “pemrograman pikiran” yang juga dikenal dengan NLP. Ia adalah kolomnis pembelajar.com dan dapat dijumpai di rumah virtualnya di Jennie S Bev.com.
Premis kuno yang berbunyi, “You are what you think you are” dan “What you think about yourself is more important than what people think about you” selama ini telah menemani perjalanan panjang saya dalam dunia kehidupan yang penuh dengan deru ombak. Bisa dibilang sejak sebelum dilahirkan, saya telah mengalami kepahitan hidup yang mendalam, yaitu ayah kandung yang meninggalkan ibunda saya yang sedang mengandung (saya) demi seorang wanita simpanan. Ibunda saya membesarkan saya sendirian dengan sepasang tangannya dan kebesaran hati saja. Sekarang, 36 tahun kemudian, saya melihat kembali ke belakang dengan senyum kemenangan.
Kalau saja saya mengalami masa kecil yang ideal, mungkin saya tidak bisa menjadi seperti sekarang: mandiri, berani menanggung resiko dan mempunyai visi ke masa depan. Kesulitan hidup menempa saya untuk selalu melihat secercah cahaya di ujung terowongan yang gelap gulita. Di manapun saya berada, saya yakin akan potensi saya untuk berhasil. Mungkin itulah cara mental saya untuk mematahkan kesedihan hati, mungkin semacam defense mechanism alami. Selama hampir 30 tahun, saya tidak menyadari hal ini.
Kurang lebih tujuh tahun yang silam, ketika saya dan suami memulai hidup baru di tanah asing, masing-masing dengan dua potong kopor dan sepasang tangan, “siapa saya” kembali menghantui diri yang sedang mengalami masa transisi. Syukurlah, masa-masa “bimbang” ini tidak lama, dengan semangat “what you think about yourself is more important than what people think about you” yang selalu saya tanamkan sejak masa kanak-kanak kembali mematahkan segala unsur negatif yang kian berdatangan dengan menggantikannya dengan semangat juang positif.
Setiap bangun pagi, saya selalu dengan sadar (aware) mengucap syukur akan hari baru yang menjanjikan hidup yang baru. Kemarin yang “pahit” bisa dengan sekejap berbalik menjadi “manis” kembali. Dengan hati yang diisi dengan kesadaran penuh, saya menjalankan setiap hari “good to the last drop.” Tiada hari yang berlalu tanpa “prestasi kecil” yang saya syukuri setiap malam saya berangkat ke peraduan.
Sampai hari ini, saya telah “menembus” beberapa barrier yang mungkin dianggap “impossible” oleh orang kebanyakan. Saya bukan berasal dari keluarga billionaire (konglomerat), juga tidak mempunyai figur ayah, tidak juga berpendidikan Ivy League (Harvard dan sekelasnya), Inggris bukanlah bahasa ibu, tidak mempunyai modal kerja yang cukup untuk membangun perusahaan di Amerika Serikat yang terkenal dengan “high cost business”-nya, dan juga tidak mempunyai koneksi dengan kalangan atas di mancanegara. Namun dengan modal dengkul dan kemampuan “memprogram pikiran” sajalah maka barriers berat di atas bisa berhasil saya balik menjadi kemenangan.
Baru beberapa tahun terakhir ini saya kenal dengan NLP (Neuro Linguistic Programming), yaitu metode pemrograman pikiran (diciptakan oleh Richard Bandler dan John Grinder), yang dibahas dalam buku Sdr. Waidi, MBA yang berjudul The Art of Re-engineering Your Mind for Success. Buku ini merupakan salah satu dari segelintir buku berbahasa Indonesia yang menggarap bidang yang masih jarang dibahas di Indonesia ini.
Tanpa disadari, saya sesungguhnya adalah “penganut” NLP secara alami, karena proses-proses yang diajarkan dalam metode ini (yang dibahas di dalam buku ini) terjadi secara alami di dalam pikiran dan bawah sadar saya. Survival tool yang saya gunakan selama ini secara alami sangatlah sederhana, yaitu “balikkan kesusahan menjadi kemenangan” sesungguhnya merupakan akar pemikiran dari metode NLP. Dan saya yakin bahwa mayoritas “orang-orang sukses” di dunia adalah mereka yang menerapkan metode NLP baik secara sadar maupun secara “alami,” karena pada dasarnya setiap orang yang berhasil “menggali potensi dirinya yang sedang tidur di dalam alam bawah sadarnya” itulah penganut NLP sejati.
Hal ini juga sejalan dengan riset saya mengenai Constructivist Learning Theory, yang dikenal dalam dunia pedagogi dan learning skills, di mana setiap kejadian di dalam hidup merupakan proses pembelajaran (learning process) yang ditumpuk terus-menerus di atas existing experiences kita. Namun, walaupun sepasang anak kembar dengan komposisi genetik yang identik, pendidikan yang identik dan pengalaman hidup serupa, tetaplah tidak mempunyai kepribadian yang sama. Ini disebabkan oleh setiap otak memprogram diri (alias “mengkonstruksi”) secara berbeda.
Alangkah indahnya jika kita semua menjalankan kemampuan memprogram pikiran ini dengan optimal, karena dengan semakin banyak orang yang menjalankan hidup dengan kesadaran penuh untuk sukses, maka semakin majulah bangsa dan negara kita. Apalagi ditambah dengan etika kerja yang luar biasa positif, sehingga segala jenis faktor “penghancur” bangsa, seperti korupsi dan mental “semau gue” bisa dikikis secara bertahap.
NLP membantu mereka yang mempunyai keterbatasan dalam memprogram diri sendiri untuk sukses dengan metode yang mudah untuk diterapkan, maka saya ucapkan selamat bagi Anda yang telah mulai membaca buku Sdr. Waidi, MBA ini. Siapa pun Anda dan seperti apa pun masa lalu Anda, Anda bisa mengkonstruksi alias memprogram pikiran Anda supaya menjadi landasan yang kuat bagi kesuksesan yang sebenarnya hanyalah kebalikan dari “kesusahan hidup” saja.
Sdr. Waidi, MBA sendiri hanyalah seorang anak “kampung” yang dengan modal kekerasan hati berhasil menyelesaikan sarjananya di Universitas Terbuka dan akhirnya bisa mendapatkan beasiswa untuk program S2 di Inggris dan studi NLP di Australia. Saya sendiri yang “hanyalah” seorang anak yang ditinggal pergi oleh ayah kandungnya yang kemudian menjadi perantau di Amerika Serikat dengan modal dengkul saja yang mesti mengadu nasib di tengah dunia yang asing tanpa kenal satu orang pun, akhirnya bisa diakui sebagai entrepreneur, penulis berprestasi (dalam bahasa Inggris yang bukanlah bahasa ibu) dan konsultan beberapa mogul papan atas. Semua ini berkat proses pemrograman pikiran yang “ternyata” bernama NLP ini.
Kalau kami berdua bisa menjadi seperti sekarang dari latar belakang kehidupan yang tidak sempurna ini, apalagi Anda, bukan? Sukses, after all, adalah hak hidup setiap orang. Kuncinya adalah kesadaran bahwa sukses itu telah ada di dalam diri kita semua, yang hanya perlu “dibangunkan dari tidurnya” saja.
Ingat dua premis kuno ini: “You are what you think you are” dan “What you think about yourself is more important than what people think about you.” Mari kita sama-sama menjadi surfer kehidupan karena ombak kehidupan ini bisa dengan mudah kita “kendarai” (surf) dengan kesadaran penuh (awareness).
Salam dari jauh namun dekat di dalam pikiran,
Jennie S. Bev
Januari 2006, San Francisco Bay Area
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Hanya dengan hidayah-Nya buku ini akhirnya dapat saya persembahkan kepada pembaca. Saya ucapkan Selamat Datang di Rumah Pengetahuan saya yang kedua: KITIR. Saya sebut KITIR karena mendapatkan inspirasi ketika masa kecil saya di kampung, saat orang tua saya sering menyebut kata KITIR. Saya menjadi penasaran dibuatnya. Setelah saya melihat sendiri, KITIR itu berasal dari kata “KETER” yang artinya “surat keterangan” dari RT/RW atau dari desa tentang seuatu hal seperti: surat keterangan jalan, keterangan penjualan sapi, tentang status warga dan lain-lain. Dari terminologi tersebut, saya sebagai anak kampung, mempunyai sejumlah harapan, mudah-mudahan apa yang saya tulis di dalam buku ini memberikan “keterangan baru” tentang sesuatu yang belum diketahui oleh pembaca. Pada hal sesuatu itu melekat dalam diri pembaca budiman!
Seandainya benar bahwa ternyata buku ini memberikan “pencerahan baru” bagi pembacanya, maka saya memberanikan diri untuk mengartikan kata KITIR singkatan dari “Kiat Mutakhir”.
Sedikit berbeda dengan KITIR saya yang pertama, “On Becoming Personal Excellent”. Pada KITIR pertama pendekatan yang saya pakai adalah refleksi psikologi transpersonal, pada KITIR kedua saya lebih banyak menggunakan teori psikologi excellency yakni neuro linguistic programming (NLP). Oleh karenanya, saya harus menyertakan sejumput teori NLP dengan maksud memberikan frame yang jelas terhadap keseluruhan tulisan saya dalam buku ini.
¼br /> Secara keseluruhan buku ini memberikan sejumlah KITIR (keterangan ) bahwa pikiran kita memiliki dua sifat yang berbeda: kadang lunak selunak tahu, tetapi kadang sekeras sekeras batu. Selunak tahu karena pikiran bukanlah benda mati, melainkan lentur sehingga bisa dibentuk ulang oleh pemiliknya; sekeras batu karena pikiran terdiri dari pola-pola keyakinan yang kadang tak seorang pun mampu membentuk ulang. Pikiran itu telah membatu dengan keyakinannya meski keyakinan itu sesungguhnya keliru. Salah kaprah merupakan salah satu bentuk pikiran yang membatu.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu besumber dari sebuah keyakinan yang salah. Banyak orang yang meyakini bahwa dirinya tak bakat terhadap suatu hal, maka selamanya tidak pernah mencoba. Dan selamanya terjebak dalam “penjara pikirannya” sendiri. Meski yang bersangkutan saar bahwa apa yang diyakininya itu salah, namun banyak orang yang tidak punya nyali untuk keluar dari penjara itu.
Kian hari penjara itu kian kuat, sehingga hidup kita terjebak sampai mati. Semakin lemah kita, semakin kuat penjara itu. Semakin besar peluang untuk menerimanya, penjara itu semakin membelenggu diri kita. Sekali lagi pikiran bukanlah benda mati yang tidak bisa didesain ulang, pikiran adalah benda lunak selunak tahu yang masih bisa dapat direkayasa menurut kebutuhan pemiliknya.
Melalui pendekatan NLP pola-pola pikiran keliru dapat direkasa ulang. Pola-pola lama yang keliru dapat didekontruksi menjadi pola baru. Sistem kepercayaan/ keyakinan lama bisa dihapus dan diganti dengan sistem kepercayaan baru. Oleh karenanya buku ini lebih banyak bicara soal sukses melalui “bongkar-pasang” pola-pola pikiran. Atau program deleting virus-virus bio komputer kita.
Bab I saya bicara secara singkat apa itu NLP, sebuah teknologi baru untuk mendesain pikiran menuju keberhasilan hidup. Untuk Bab ini saya mendapat kontribusi 1 (satu) tulisan yang semula berbentuk wawancara antara Ronny F.Ronodirjo, pemegang sejumlah sertifikat NLP, dengan Edy Zaqeus, Editor Pembelajar Com.
Pada Bab II saya mencoba memberikan ilustrasi melalui beberapa artikel. Secara singkat dapat saya katakan bahwa hidup manusia setiap harinya dipenjara oleh lingkungan dan oleh diri sendiri. Oleh lingkungan dari lingkungan keluarga, masyrakat, hingga tempat kerja, bahwa hidup kita nyaris tak bisa lepas dari aturan-aturan yang ada. Dari diri sendiri berupa sejumlah sistem keyakinan yang salah, tetapi dipercayai sebagi hal yang benar sehingga kita nyaris tak mampu untuk meretasnya.
Pada Bab III saya mencoba memberikan sejumlah kiat mutakhir bagaimana kita bisa keluar dari penjara pikiran. Sebuah penjara yang berasal dari persepsi diri dan orang lain (lingkungan) terus memenjara pikiran kita. Ketidakmampuan untuk meretas jeruji-jeruji penjara mental hanya akan menjadikan diri kita terus kerdil dan tidak akan pernah menjadi “manusia otentik”, sebuah predikat yang paling berharga dalam hidup ini.
Manusia otentik berarti manusia yang di dalam alam pikirnya sudah tidak ada lagi segala bentuk (pola pikir) yang menghukum dan menghambat lajunya pertumbuhan potensi diri sesuai dengan misi hidupnya. Apa bila hal demikian terjadi, maka pemiliknya akan melesat bak meteor.
Untuk mencapai ke sana, tidak saja diperlukan keterampilan (kiat-kiat) bagaimana kita bisa keluar dari penjara pikiran, tetapi kecakapan me-manage potensi pikiran kita sendiri merupakan hal yang sangat penting. Oleh karenanya, dalam Bab IV saya memberikan serangkaian kiat dan ilsutrasi tentang bagaimana mengelola pikiran agar pikiran menjadi “pembantu” yang baik dan loyal. Artinya, pikiran harus berada dalam kontol pemiliknya (kita), jangan sampai pikiran yang memiliki sifat liar itu justru mengusai diri kita.
Akhirnya saya ingin mengatakan bahwa salah satu faktor penting menuju kesuksesan adalah keberanian kita sendiri untuk keluar dari penjara pikiran. Buku ini mencoba memberikan sejumlah KITIR dan kiatnya. Buku serial KITIR ini lahir karena masih banyak diantara kita yang belum mengetahui bagaimana diri kita (manusia) bisa keluar dari penjara ciptaannya sendiri.
Purwokerto, Januari 2006
Waidi.
Semakin mendalami neuro-linguistic-programing (NLP), dan menghayati arti kehidupan, perjalanan refleksi saya menemukan sesuatu yang belum pernah saya dapatkan: kenapa manusia dianjurkan berdo’a?. Apa yang tersembunyi dibalik do’a secara neurologis?. Yang sering saya temukan dalam ceramah rohani konvensional selama ini, do’a merupan alat komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Bahwa do’a adalah cara “memohon” sesuatu dengan rendah diri dan khusuk di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam dunia NLP do’a memiliki perspektif yang berbeda. Do’a dalam NLP lebih mempertegas betapa manusia sangat lemah di hadapan Sang Pencipta. Bila kita mempelajari konfigurasi otak manusia dan perannya, berdo’a merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia. Sehebat apa pun manuasia itu, berdoa menjadi suatu keharusan: wajib. Hanya saja Tuhan Maha Bijaksana, sehingga berdo’a menjadi semacam anjuran: mau berdo’a atau tidak, sangat tergantung pada tingkat keimanan kita masing-masing.Tuhan tidak akan rugi bila umat-Nya tidak berdo’a.
Untuk memahami pentingnya do’a versi NLP, saya harus bicara secara teoritis terlebih dahulu. Secara anatomis, otak manusia dibagi menjadi dua bagian besar: otak kanan dan otak kiri. Otak kiri adadalah otak rasional; otak kanan otak adalah otak kreatif, imajinatif, asosiatif dan inovatif. Sedangkan menurut para pakar psiko-analis, bahwa secara struktural berpikir, otak dibagi menjadi 3 (tiga) bagian besar: yakni pikiran sadar (conscious mind), pikiran pra sadar (sub conscious mind) dan pikiran bawah sadar (unconscious mind). Dengan bahasa lain, menurut Ary Agustian Ginanjar (2004), pikiran sadar (kecerdasan interlektual atau IQ), pikiran pra sadar (kecerdasan emosional atau EQ), dan pikiran bawah sadar ( kecerdasan spiritual atau SQ).
Dalam NLP, secara sederhana hanya membagi pikiran menjadi 2 (dua) yakni pikiran sadar (PS) dan pikiran bawah sadar (PBS). PS adalah pikiran aktual saat ini atau pikiran aktif: apa yang Anda rasakan dan Anda ingat saat ini. PBS adalah pikiran yang tidak muncul saat ini, saat Anda membaca tulisan ini yang bekerja secara aktif adalah PS. Semua pikiran yang digunakan untuk memahami makna tulisan ini adalah PS; sedangkan semua pikiran lainnya yang tidak muncul pada saat Anda membaca tulisan ini disebut PBS. Jadi misalnya Anda punya banyak pikiran (masalah: hutang, pekerjaan, keluarga dll) dan segera terlupakan sesaat (hanya saat) membaca tulisan ini, itulah PBS. Singkatnya, PS adalah pikiran yang saat ini muncul, sementara PBS adalah pikiran yang tidak muncul (tersimpan) saat ini.
Bila dilihat prosentasenya , jumlah PS jauh lebih kecil (12 persen) dibandingkan PBS (88 persen). Apa yang tersimpan dalam otak kita jauh lebih banyak dari pada apa yang kita gunakan saat ini. PBS ibarat perpustakaan, sementra PS ibarat katalognya (alat). Anda akan dengan mudah mendapatkan jumlah dan jenis buku yang tersedia di perpustakaan bila Anda mau menggunakan alat bantunya yakni katalog. Anda akan paham dan dapat memanfaat kekayaan diri yang tersimpan di dalam PBS, bila mau menfaatkan PS Anda sebagai alatnya.
Coolinng Wood (2005) menggambarkan hubungan antara PS dengan PBS, ibarat sebuah ruangan gelap dan lampu senter. Sebuah ruangan gelap ibarat PBS; lampu senter (alat) sebagai PS. Bila Anda masuk ke ruangan gelap tanpa alat bantu senter Anda akan terjebak dan tidak mampu menggambarkan isi keseluruhan ruangan tersebut. Berbeda dengan bila Anda menggunakan alat bantu senter, Anda tidak akan terjebak dan segera mendapatkan bentuk dan deskripsi ruangan tersebut.
PS ibarat seberkas cahaya yang mampu menyinari kegelapan. PBS ibarat kekayaan yang tersembunyi di ruangan gelap. Keduanya sangat bermanfaat untuk kehidupan ini. Sayangnya pendidikan formal kita nyaris tidak memiliki kurikulum bagaimana memanfaatkan kekayaan yang tersembunyi itu. NLP sebetulnya mampu untuk itu namun belum banyak dikenal di Indonesia: NLP for education.
Koordinasi antara PS dan PBS menjadi hal penting dalam kehidupan sehari-hari. PS adalah pengontrol utama mekanisme kerja di antara keduanya. PS menentukan kekayaan mana (informasi mana) yang akan dimanfaatkan pada situasi tertentu oleh seseorang. PS sangat menentukan potensi diri mana yang dapat digunakan dalam jangka pendek atau jangka panjang.
Secara ideal mekanisme kerja diantara keduanya bersifat buka-tutup. Artinya, ketika PS bekerja PBS (dikunci), tidak boleh mengganggu kerja PS. Idealnya, ketika Anda sedang membaca tulisan ini, PBS tidak boleh muncul atau menginterupsi. Tetapi yang sering terjadi, ketika Anda membaca tulisan ini, PBS sering menginterupsi (muncul) sehingga konsentrasi buyar. Yang sering terjadi juga, Anda sedang mendengarkan kuliah, tetapi pikiran tiba-tiba melayang kemana-mana (ingat hutang, masalah keluarga, pekerjaan dll) sebagai hasil interupsi dari PBS. Bila Anda belum terampil mengendalikan sang interuptor tadi, tidak saja Anda menjadi sulit berkonsentrasi tetapi bisa fatal.
Khilaf adalah contoh betapa seseorang sering tidak mampu mengendalikan sang interuptor tadi. Bila Anda bekerja di laboratorium yang mempersyaratkan konsentrasi tinggi, dan prosedur ketat, maka akan sangat fatal bila tiba-tiba digoda oleh sang teruptor. Seorang ibu yang hendak memandikan bayinya dan khilaf karena ada interuptor (mungkin masalah hutang, masalah keluarga, masalah pekerjaan dan lain-lain) bisa jadi tiba-tiba menyiram balitanya dengan air panas dari termos. Semua itu bisa terjadi bila sang interuptor yang berasal dari pikiran bawah sadar tidak bisa dikendalikan dan dikelola secara baik.
Disinilah letaknya, sehebat apa pun manusia, secara potensial masih bisa lengah dan tergoda oleh sang interuptor. Manusia boleh bangga dengan hasil pikir otak sadarnya, boleh bangga dengan perencanaan yang matang dan standar kerja yang baku. Tetapi siapa pun orangnya masih bisa lengah oleh jutaan interuptor yang bersumber dari PBS. PS kita tak akan mampu mengunci rapat-rapat PBS untuk tidak menjadi interuptor. Berapa lama kita berkonsentrasi untuk satu hal? Berapa lama kita untuk tidak mengingat suatu hal ketika sedang konsentrasi? Interuptor bisa datang setiap saat.
Sampai di sini saya ingin mengatakan bahwa berdo’a adalah cara terbaik agar kita tidak mudah lengah dan hanyut oleh interuptor. Hanya Tuhan yang tidak pernah lupa. Secerdas apa pun manusia, tetap saja lengah dan lupa. Manusia diberi sifat lupa dan lengah. Maka berdo’alah kepada Tuhan agar sifat lupa dan lengah tidak menjebak diri kita. Hanya dengan seijin Tuhan manusia dapat terhindar dari kekurangannya (lengah, lupa, khilaf dan lain-lain).
Do’a dalam perspektif neurologis, adalah cara menyapa agar interuptor yang hadir adalah interuptor positif. Pada saat kita berdo’a (baik pada saat mulai, menjalani dan mengakhiri pekerjaan), sesungguhnya adalah sedang mengaktifkan otak spiritual, otak/syaraf positif yang bersumber dari nilai-nilai Ilahiyah. Bila yang satu ini sering diaktifkan (lebih dikenal dengan banyak dzikir) maka semua aktifitas kerja kita menjadi lebih terkontrol, lebih bijak dan lebih bermakna, kalau pun sang iteruptor datang adalah interuptor yang positif: yang mengingatkan agar tidak terjebak dalam kehilafan seperti contoh tersebut di atas.
Berdoa adalah cara menggunakan pikiran sadar dalam mengakses PBS yang terdalam yakni spiritual. Do’a adalah “lampu senter” untuk melihat secara komprehensif seluruh potensi pikir yang tersimpan di dalam otak kita sampai ke hal-hal yang spiritual. Do’a adalah cara mendapatkan “lampu senter Ilahiyah” yang mampu menerangi apa yang kita miliki (potensi diri), apa yang kita kerjakan, dan apa yang akan kita kerjakan menjadi lebih bermakna bagi banyak orang.
Barangkali itulah secara neurologis mengapa Tuhan dengan bijak menganjurkan supaya kita senantiasa berdo’a. Paling tidak agar kita tidak lupa atau khilaf, dan agar apa yang kita kerjakan setiap saat selalu terkontrol oleh nilai-nilai positif-Ilahiyah. Hanya dengan do’a hidup lebih bermakna dan terhindar dari kesombongan intektual.
Do’a adalah cahaya terang bagi diri sendiri dan kehidupan. Bila seseorang memilki terang hati (ikhlas), terang rasional (cerdas) dan terang emosinal (sabar), ia termasuk orang yang terhindar dari kegelapan.
Secara neurologis, manusia sangat rentan terhadap kehilafan, maka berdo’alah, agar kehilafan itu tetap terjaga oleh Yang Maha Terjaga : Tuhan.
Untuk mengawali tulisan ini saya mengajukan pertanyaan: adakah kegagalan? Nalar sehat akan menjawabnya dengan serentak, tentu saja ada. Namun di situlah letaknya. Siapa saja mempercayai bahwa kegagalan itu ada, maka ia pasti gagal, dan sebaliknya, bila tidak mempercayai kegagalan maka ia akan sukses.
Terdapat dua kelompok dalam memandang sebuah kegagalan. Kelompok pertama adalah mereka yang percaya bahwa kegagalan itu ada. Ilustrasinya, mereka yang telah berkali-kali gagal dalam usahanya, kemudian mereka mendefinisikan diri bahwa mereka telah gagal. Artinya mereka telah kapok dan tidak ada usaha lagi. Contohnya begini: bila Anda hari ini jualan tidak laku, besok lagi tidak laku, besoknya lagi hanya laku satu. Kemudian minggu depan coba lagi, hasilnya juga tidak sesuai harapan. Maka Anda menganggap bahwa diri Anda tidak bakat bisnis. Maka stop. Kapok, plus tidak mau coba-coba lagi jualan. Anda gagal dalam usaha. Kelompok pertama ini menganggap kegagalan sebagai akhir dari segalanya.
Kelompok kedua, adalah mereka yang dalam pikirannya tidak percaya bahwa kegagalan itu ada. Apabila Anda masuk kelompok ini, sudut pandangnya berbeda dengan mereka kelompok pertama. Apabila hari ini Anda jualan hari tidak laku, besok coba lagi. Apabila besok juga tidak laku, Anda coba lagi-dan coba lagi dengan berbagai cara. Bila belum juga berhasil, bukannya malah menganggap diri Anda telah gagal, tetapi malah tambah nekad. Tidak kapok, malah tambah “gila” cara usahanya. Malah bersumpah “Sampai kapan pun saya terus berusaha dan berusaha. Tidak ada kata menyerah”. Baginya menyerah berarti gagal.
Saya terkadang tidak habis mengerti. Kenapa tulisannya sama yakni “g-a-g-a-l”, huruf dan jumlahnya sama tetapi kelompok pertama menafsirkannya bahwa gagal adalah kapok? Alias berhenti? Sementara kelompok kedua mengartikan dan mendengar kata gagal malah tambah semangat? Malah tambah gila usahanya? Kenapa berbeda tafsir?
Kandungan makna gagal yang membedakannya. Siapakah pembuat makna itu? Diri kita sendiri berdasarkan kualitas pikiran yang ada di dalan diri kita masing-masing. Di dalam pikiran kita ada “Eksektif Batin” atau “Manajer Penentu Pikiran” yang bertugas mengelola informasi dan mengambil keputusan setiap saat. Manajer ini yang akan mengatur kemana arah pikiran berkehendak: menyerah (gagal) atau jalan terus.
Manajer Pikiran kita yang akan menentukannya. Bila yang berkuasa dalam pikiran kita adalah “bala kurawa” yang terdiri dari “file-file negatif” yang tidak dan penakut, maka pada saat mengalami kegagalan segera bersengkokol untuk menyerah saja. Mereka (baca file-file negatif yang hidup dalam alam pikiran kita) selalu menggoda ketawakalan kita saat berniat untuk bangkit lagi. Mereka selalu bersekutu dengan setan agar menggoda pemilik pikiran (kita sendiri) agar tidak usah melanjutkan perjuangan. Mereka selalu menggoda, “Hayo,… berhenti saja, menyerah saja, stop saja!. Stop jauh lebih nikmat dari pada menlajutkan perjuangan”, godanya.
Dasar Manajer Pikiran kelas teri (selanjutnya saya sebut Manajer Pengecut), kelas murahan yang maunya enaknya saja maka dengan tanpa ragu segera memutuskan: stop saja. Manajer Pengecut ini adalah manajer yang tidak mau bertanggung jawab. Maka sangat berbahaya bila pikiran kita memiliki Manajer tipe seperti itu.
Dari mana asal muasal Manajer Pengecut? Tidak lain dari pengalaman hidup kita yang terlalu sering bersekongkol dengan “ego”, yakni salah satu bagian dari jiwa kita yang selalu menghindari kesulitan dan memburu kemudahan. Yang cenderung melepas tanggung jawab karena sulit, dan mencari pelampiasan demi kesenangan sesaat. Menuruti Manajer Pengecut hanya akan mendapatkan nikmat sesaat, tapi merusak masa depan kita sendiri.
Dalam bahasa dakwah –yang sering disampaikan oleh Pak Kyai—ego adalah godaan setan yang senantiasa membisikan kepada nurani istiqomah kita agar niat baik kita segera dibatalkan. Bila ego (setan) telah bersekutu dengan Manajer Pikiran Pengecut, dan hidup dalam alam pikiran seseorang, maka celakalah ia hidupnya. Inilah yang disebut seseorang diperbudak oleh pikirannya. Bukan memperlakukan pikirannya sebagai “budak-budak” yang loyal pada pemiliknya.
Berbeda dengan apabila yang berkuasa dalam alam pikiran kita adalah Manajer Pikiran yang memiliki integritas tinggi (selanjutnya saya sebut Manajer Profesional). Manajer Profesional ini bekerja dengan penuh tanggung jawab, tidak mudah menyerah, berani berisiko, memegang teguh etika dan moral, dan selalu berorientasi ke pada masa depan. Manajer tranformatif, yang sanggup merubah kesulitan dan tantangan menjadi bangunan keberhasilan.
Bila Manajer Pengecut merupakan anak kandung “ego” (temannya setan), sebaliknya Manajer Profesional merupakan anak kandung dari “suara hati” yang tawakal dan istiqomah. Manajer Profesional merupakan hasil dari perjuangan melawan ego atau setan yang setiap detik menggoda dengan iming-iming kesenangan sesaat agar niat lurus hati yakni maju terus pantang mundur dapat digagalkan.
Cara kerja Manajer Pikiran Profesional sangat berbeda dengan Manajer Pengejut, khususnya dalam melihat kegagalan. Apabila Manajer Pengecut cenderung menjadikan kegagalan sebagai akhir segalanya, maka sebaliknya, Manajer Profesional melihat kegagalan sebagai keharusan yang darinya akan diperoleh banyak berkah. Berikut bagaimana Manajer Pikiran Profesional melihat dan memahami arti sebuah kegagalan.
Pertama, gagal itu tidak ada. Yang ada hanyalah hasil-hasil yang belum sesuai harapan. Bila saat ini ia sedang mengalami kegagalan, ia menganggap itu sebagai pijakan kuat dan pelajaran terbaik untuk langkah berikutnya. Sepanjang masih ada usaha, belum bisa dikatakan gagal.
Kedua, gagal itu (baca: hasil yang belum sesuai dengan harapan) itu manusiawi. Artinya kita bukanlah malaikat pencipta sukses. Hanya Tuhan Yang Maha Tidak Pernah Gagal. Dengan kegagalan menjadikan kita mendekat pada Dzat Yang Maha Tidak Pernah Gagal: Tuhan.
Ketiga, gagal itu pelajaran sangat berharga. Dengan mengalami gagal, bila kita terus berusaha bangkit, kita mendapatkan banyak pelajaran dalam hidup. Manusia hebat adalah manusia yang mau belajar dari kegagalannya. Dibalik kegagalan tersimpan sejuta pengalaman hidup yang tak ternilai harganya.
Bagi Manajer Pikiran Profesional gagal dan sukses sama saja nilainya. Artinya, bagi pikiran yang dipandu oleh Manajer Pikiran Profesional yang senantiasa istiqomah dan pernuh rasa syukur, gagal dan sukses sama saja maknanya. Pada saat gagal tidak berarti menyerah dan pada saat sukses tidak berarti berhenti berusaha. Terus berbuat demi kebaikan mutu hidup.
Salah satu kekuatan Manajer Pikiran Profesional adalah pandai bersyukur. Bersyukur menjadi kekuatan terdahsyat bagi setiap manusia. Banyangkan, pada saat gagal atau sedang mengalami down besar, bersyukur merupakan kekuatan kita yang terakhir untuk tidak berhenti atau menyerah (tawakal); dan pada saat berhasil juga tidak menjadikan diri kita lupa dan sombong dengan keberhasilannya. Syukur menjadikan diri ini terus berkarya dan berkarya yang terbaik, baik pada saat gagal maupun pada saat berhasil.
Bersuyukur, untuk selalu ingat pada Allah SWT dan terus berusaha pada saat gagal dan berhasil, merupakan jalan terbaik menuju puncak segala puncak keberhasilan hidup yakni syurga. Allah SWT telah mengingatkan agar kita selamat dari bencana hidup: “Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia, (yaitu) bagi siapa diantara kamu yang berkehendak akan maju atau mundur” (QS: al-Muddaststsir, 35-57)
Ancaman besar bagi manusia, bagi kita semua, adalah bila “berkendak maju atau mundur”. Artinya, tidak maju dan tidak pula mundur, termangu-mangu menyesali kegagalan masa lalu dan sekaligus tidak melakukan perbaikan apa pun untuk menuju masa depan yang lebih cerah. Bagi saya, hidup harus melakukan sesuatu yang bermanfaat sebagai pertanda syukur atas nikmat hari ini. Anda dan saya disebut hidup bila melakukan sesuatu dan disebut “mati” bila hanya berdiam diri hanya meratapi nasib masa lalu.
Apa pun yang terjadi hari ini, bersyukurlah dengan cara tetap berusaha kalau tidak ingin hidup kita terancam bencana kegagalan seperti yang diperingatkan oleh Allah SWT melalui Surat al-Muddaststir tersebut di atas. Allah telah menjamin hasil tiap-tiap usaha yang tengah kita lakukan baik saat gagal atau saat berhasil.
So, bila demikian, adakah kegagalan? Ada bila kita tidak pandai bersyukur dengan hasi-hasil hari ini. Ada bila kita berhenti lantaran apa yang kita harapkan hari ini tidak sesuai dengan harapan. Ada bila kita menyerah alias tidak melakukan apa pun karena hari ini belum mendapatkan hasil. Sebaliknya, tidak ada kegagalan dalam hidup ini bila masih ada spirit untuk terus berusaha, apa pun hasilnya, tetap saja melakukan tindakan-tindakan sebagai rasa syukur atas karunia Tuhan hari ini. Syukur dan istiqomah menjadi pintu kebehasilan setiap diri kita.
Akhirnya saya katakan bahwa sukses merupakan hak setiap orang ynag terus menerus mengusahakannya sebagai tanda syukur. Sebaliknya, kegagalan adalah hak setiap orang yang berhenti mengusahaknnya karena lupa bersyukur bahwa sebelulnya hari ini juga berhasil namun belum maksimal.